mengenang saat-saat terakhir Presiden Sukarno

Ngga ada salahnya kalau kita kembali mengingat salah satu founding father kita, Bung Karno dan apa yang terjadi pada saat² terakhir hidupnya dan kematiannya.

Berikut ini adalah cuplikan dari artikel² media massa & blog yang mengulas keadaan terakhir beliau. Terimakasih sebesar² nya bagi semua penulis blog & artikel berikut ini, yang mengingatkan kita akan apa yang sebenarnya terjadi.
semoga berkenan

Tulisan Iman Brotoseno

13 Jan 2008
http://blog.imanbrotoseno.com/?p=150
Soekarno – Sejarah yang tak memihak

Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.
Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan.
“ Pak Karno seda “ ( meninggal )
Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono – Panglima KKO – pernah berkata ,
“ Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO “
Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.
The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor. Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya – Mayjend Amir Mahmud – disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.
“ Het is niet meer mijn huis “ – sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya.
Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso.
Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.

Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin – Gubernur Jakarta – yang juga berasal dari KKO Marinir.
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.
Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.
Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah.
Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.
Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor. Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota.
Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.

Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,
“ Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. “
( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )

dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.
( Kompas 11 Mei 2006 )

Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut,
“ Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad “
( Kompas 13 Januari 2008 )

Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden ! Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.
Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.

Kesadaran adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Perjuangan adalah pelaksanaan kata kata
( * WS Rendra )

Artikel dari RADAR BALI, JAWA POS GROUP

Sabtu, 26 Jan 2008
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=192527&c=94
Mantan Ajudan Bung Karno, Putu Sugianitri Buka Rahasia Soal Perlakuan Negara kepada Bung Karno
Oleh ALI MUSTOFA, Denpasar

Selama Soeharto berkuasa sekitar 32 tahun, gerakan anti Soekarno terus digelorakan. Buku-buku berbau revolusi dan kekirian dibredel dan ditarik dari pasaran. Namun, kondisi itu terbalik setelah Pak Harto lengser, Mei 1998. Bagaimana reaksi Sugianitri saat itu?

LENGSERNYA Presiden diikuti berbagai hujatan dan cemoohan. Begitulah yang sering terjadi di negeri ini. Hal itu pula yang menyertai Soekarno saat turun tahta. Bahkan, dia mendapat hujatan sangat keji dari lawan politiknya. “Beliau (Soekarno) setiap bangun pagi selalu membaca koran yang terbit di Jakarta saat itu. Beliau saat itu membaca dengan jelas hujatan maupun cacian yang ditulis koran,” ujar Putu Sugianitri, mantan ajudan Bung Karno.

Bagaimana ekspresinya? Menurut perempuan yang biasa disapa Nitri, ini saat itu Soekarno lebih banyak tersenyum bila ada berita bernada menghujat. Malah sering kali Soekarno menjawabnya dengan canda. Semisal ketika foto dirinya membelakangi Bung Karno dipajang menjadi headline (berita utama) di salah satu koran terkemuka di Jakarta. “Kayaknya fotografernya naksir kamu Tri,” canda Bung Karno kepada Nitri. Dia yang waktu itu menahan amarah, hanya bisa tersenyum. Maklum saja, judul foto yang dipajang cukup serem. Dibilang kalau dirinya lonte-nya Soekarno.

Sikap Bung Karno yang terkadang cuek itu kerap membuatnya sering bertanya. Pasalnya hujatan dan cacian itu sudah sangat kasar. Sebagai bangsa beradab, Nitri ingin Bung Karno menghentikan cara-cara seperti itu. “Tapi, Bung Karno malah meledek saya, tahu apa katanya saya tentang politik,” lontarnya. Apa alasannya? Persisnya Nitri mengaku tak tahu. Namun, sebelum ajal menjemput Bung Karno sempat membisikinya. “Tahu kamu kalau aku ngomong blak-blakan. Aku yakin akan terjadi perang saudara. Kalau perang dengan bangsa lain, kita bisa membedakan fisiknya. Tapi dengan bangsa sendiri, itu sangat sulit. Lebih baik aku robek diriku sendiri, aku yang mati daripada rakyatku yang perang. Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang,” jelas Nitri mengutip kata-kata terakhir Bung Karno sebelum meninggal.

Lantas, seperti apa sikapnya terhadap Soeharto yang kini mengalami nasib sama seperti Bung Karno? Menurut Nitri, sebaiknya pemerintah Indonesia punya prinsip tegas. Bagaimana pun Soeharto adalah mantan Presiden yang pernah mencatatkan keberhasilan selama memimpin Indonesia. Kalau pun meninggal, dia menyarankan ada upacara kenegaraan mengenang jasa-jasanya. Kendati perlakuan seperti itu tidak pernah diberikan kepada Bung Karno. “Bapak meninggal dalam kondisi tidak punya apa-apa. Tapi, saya lihat waktu itu keluarga besar dalam kondisi bahagia,” ucapnya.

Menyangkut pengampunan, sebagai sesama manusia, menurut Nitri, wajib hukumnya memaafkan. Tapi, masalah hukum dan kerugian negara yang ditimbulkan Soeharto selama memimpin Indonesia, haruslah diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Dia ingin Indonesia tidak terjebak dalam paradigma sempit. Hanya atas nama kemanusian lantas mematikan arti kemanusian itu sendiri. “Saya setuju proses hukum Soeharto dilanjutkan. Menurut saya itu lebih bermartabat,” tandasnya.

Yang menarik, menurut Nitri, di zaman Orde Lama Presiden hampir tidak melakukan korupsi sehingga Bung Karno wafat tidak meninggalkan warisan banyak, kecuali meninggalkan banyak istri. “Hitung saja hartanya kalau sekiranya ada. Toh, Bung Karno tak punya apa-apa, selain istrinya yang banyak. Tapi, soal punya banyak istri, itu kan urusan pribadi,” ujarnya.

Sebagai bukti, Nitri mengaku pernah melihat Bung Karno minta duit ke Frans Seda, mantan Menteri Keuangan era Soeharto awal 70-an. Frans Seda kemudian memberikan Bung Karno Rp 5.000. Menariknya, kendati tidak punya duit, uang itu dikembalikan lagi ke Frans. “Dipakai nggak, dibeliin apa-apa juga nggak. Justru gaji saya dipakai bareng-bareng keluarga Bung Karno,” imbuhnya.

Ditanya apakah dirinya tidak takut mengungkap plus minus Bung Karno dan Pak Harto, Nitri hanya menggeleng. Justru dia mengaku sudah menghubungi Guntur Soekarnoputra sebelum diwawancara wartawan koran ini. “Waktu saya diwawancarai wartawan Tempo maupun Kompas, saya juga ngomong apa adanya ke Mas Guntur. Dan, tidak ada masalah. Saya hanya ingin meluruskan sejarah,” pungkasnya.(*)

Artikel Kompas. Maaf tidak ada link nya.

Minggu, 13 Januari 2008

Fasilitas Presiden
Lain Soeharto, Lain Bung Karno, Lain Pula Gus Dur

Melihat fasilitas kesehatan yang diberikan negara kepada Soeharto yang sedemikian prima, rasa bangga muncul. Namun, kalau mengingat perlakuan terhadap Bung Karno dan bagaimana negara ini memperlakukan Gus Dur, timbul rasa tak percaya, geram, haru yang bercampur aduk.

Soekarno, Soeharto, dan Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur, ketiganya pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini. Namun, realitasnya, negara memperlakukan ketiganya berbeda. Pengalaman sangat manis dirasakan Soeharto, tetapi getir bagi Bung Karno dan pahit bagi Gus Dur.

“Fasilitas yang diberikan kepada Pak Harto itu bukan lagi sangat bagus, tetapi sangat luar biasa. Bila dibandingkan dengan Bung Karno, jauh sekali,” ujar Rachmawati Soekarnoputri, anak ketiga Bung Karno, dalam perbincangan dengan Kompas, Sabtu (12/1).

Kalau Soeharto dirawat oleh tim dokter kepresidenan yang sangat banyak, Bung Karno justru dirawat dokter hewan saat di Batu Tulis. “Salah satu perawat juga ternyata bukan perawat, tetapi Kowad,” katanya.

Rachmawati, yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu, berkesimpulan, perlakuan terhadap mantan kepala negara ini masih jauh dari aspek keadilan, kebenaran, dan kejujuran.

Sidarto Danusubroto, salah satu ajudan Bung Karno yang masih hidup, masih ingat benar bagaimana getirnya pengalaman yang diterima Bung Karno. Dia berharap hal itu tak pernah lagi terjadi pada siapa pun dan oleh siapa pun di negeri ini. Perlakuan terhadap semua presiden harus ada standarnya meski berbeda ideologi politik.

“Saya apresiasi perlakuan perawatan kesehatan yang diberikan kepada Pak Harto. Pada saat sama saya menyayangkan mengapa hal serupa tak diperoleh pendiri bangsa ini,” katanya.

Sedemikian buruknya pelayanan kesehatan Bung Karno, sampai-sampai ketika ditanya kelas apa, dia tak bisa menjawabnya. “Kamu jawab sendiri, kira-kira kelas apa ini? Dokter spesialis tidak ada. Dokter umum saja on call, tidak stand by,” kenang Sidarto, yang kini berusia 72 tahun itu.

Kejamnya lagi, Bung Karno pun dikucilkan karena dianggap bisa membawa polusi ketidakstabilan. Untuk pergi ke Bogor saja diwajibkan lapor, begitu pula jika hendak kembali dari Bogor ke Jakarta. Hal ini yang membuat kesehatan Bung Karno merosot drastis.

Sidarto menunjukkan coretan tangan Bung Karno di salah satu bukunya yang dikutip dari filosof Jerman, Freili Grath. “Man totet den Geist Nicht. Jiwa, ide, ideologi, semangat, tak dapat dibunuh.” Saat itu Bung Karno merasa akan mati karena tidak bisa bertemu siapa-siapa setelah dijadikan tahanan rumah.

Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 Februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewawancarai para dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran (Kompas, 11 Mei 2006).

“Perawatan Bung Karno itu kelas gakin, kelas keluarga miskin. Padahal, saat itu Bung Karno statusnya masih presiden,” ujarnya.

Obat yang diberikan pun hanya royal jelly (sejenis madu), vitamin B, B12, dan Duvadilan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal, Bung Karno mengalami gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik sudah ada, tetapi juga tidak diberikan, begitu juga mesin cuci darah.

Pengulangan Sejarah
Gus Dur yang saat ini juga menderita gangguan fungsi ginjal dan harus cuci darah ternyata juga merasakan pengalaman pahit.

“Gus Dur beberapa kali masuk rumah sakit. Aturannya, negara yang menanggung biaya, tetapi kenyataannya tidak demikian. Susah sekali ditagihnya dan pernah jadi tunggakan RSCM sampai RSCM akhirnya minta keluarga saja yang bayar. Sampai sekarang Gus Dur juga cuci darah seminggu tiga kali, negara tidak pernah membantu,” kata Yenny Zannuba Wahid.

Sungguh tidak masuk akal apabila negara tidak mampu. Pasalnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2007 saja Rp 752,4 triliun. Sementara itu, rata-rata biaya perawatan Gus Dur selama ini hanya belasan juta, sedangkan biaya sekali cuci darah Rp 600.000.

Namun, Yenny berbesar hati. Menurut dia, yang terpenting bagaimana komitmen pemerintah memberikan akses pelayanan kesehatan untuk semua. “Kalau Gus Dur yang mantan presiden dan haknya diatur di undang-undang saja diperlakukan seperti itu, apalagi rakyat,” paparnya. (sut)

41 Tanggapan to “mengenang saat-saat terakhir Presiden Sukarno”

  1. Indonesia » Blog Archive » MinangKabau Traditional House Says:

    […] mengenang kematian Presiden Sukarno, bukan suharto mengenang kematian Presiden Sukarno, bukan suharto 28 Januari 2008 — Fadli Reza Dari pada bosen liat berita dan gossip infotainment di TV, juga internet yg isinya berita kematian suharto semua, ngga ada salahnya kita kembali mengingat salah satu founding father kita, Bung Karno dan apa yang terjadi pada saat² terakhir hidupnya dan kematiannya. Berikut ini adalah cuplikan dari artikel² media massa & blog yang mengulas keadaan terakhir beliau. Apa yang terjadi pada beliau sangatlah ironis […]

  2. raphael Says:

    Bung Karno adalah Bapak bagi bangsa Indonesia! rela untuk “kalah” demi keutuhan bangsa ini (walau aku tahu, saat itu banyak rakyat yang menunggu perintah Bung Karno untuk melawan).
    Bung Karno! aku akan selalu mencintaimu dan mengenangmu!

  3. Robert Manurung Says:

    Sebagai masyarakat yang beradab sudah sepatutnya kita mengucapkan selamat jalan kepada Soeharto, tapi sambil juga mengenang saudara-saudara kita yang malang, yang terbunuh akibat kekejaman rezim Soeharto.

    Bagi yang berminat, aku menulis tiga artikel terkait dengan topik ini, termasuk mempertanyakan pidato belasungkawa Presien SBY yang secara implisit menyebut Soeharto sebagai pahlawan bangsa. Baca disini :
    http://ayomerdeka.wordpress.com/

  4. Fajar Rohita Says:

    Tidak ada dan tidak perlu dendam ..kita hanya ingin meluruskan sejarah bangsa..sehingga kita bisa segera mengetahui apa yg sesungguhnya terjadi.

    Dengan demikian bangsa bisa belajar dari sejarah itu sendiri dengan bijaksana, dan tidak perlu menunggu “Pemutaran OtoBiografi” dari setiap Manusia di “Hari Kemudian”..dimana yg akan bersaksi adalah tubuh kita sendiri, dan semua sudah terlambat…

    Fajar Rohita

  5. akudanduniaku Says:

    Entahlah..Yg jelas yaumul hisab itu ada,padang mashar itu ada.
    Dan kelak..Para pemimpin akan diminta pertanggung jawabanya.
    Qt berlindung kepada rabb ‘azza wa jalla dari pemimpin yg zhalim.

  6. dobelden Says:

    semua ada plus minus nya lah…

    biarkan hukum alam berikutnya yg menentukan🙂

  7. Robert Manurung Says:

    @ Fajar Rohita

    Terima kasih kawan, kau sudah suarakan kata-kata yang sedang kususun dan hendak kukatakan.

    MERDEKA!

  8. piyantun ndeso Says:

    “Becik ketitik ala ketara, sing sapa gawe bakal nganggo”

    Perbuatan baik atau buruk suatu saat akan terlihat, siapa yang berbuat akan menuai akibatnya.

  9. djoni Says:

    hidup indonesia

  10. ranywaisya Says:

    Yg saya herankan, Utang soeharto k luar negerikan byk tuh..
    Knp gak dibayar pake duitx aj, warisanx kan byk.
    lagian kalo ssorg tlh meninggal n meninggalkan hutang maka anak maupun keluarganya hrs menggantinya.
    keluarga soeharto kan pd kaya2 semua tuh…
    Biar indonesia, terbebas dr hutang piutang yg disebabkan soeharto

  11. wieda Says:

    itulah sejarah….klo jadi “orang besar” pasti ya digulingkan oleh “orang yg lebih besar”..
    tapi bung Karno wafat meninggalkan kemerdekaan, Pak harto wafat meninggalkan hutang yg harus ditanggung seluruh anak negeri…

  12. Saz Says:

    Jika cermin dapat memperlihatkan diri kita, maka sejarah dapat memperlihatkan pribadi bangsa kita🙂

  13. Nyoman Wartana Says:

    untuk itu mari kita bersama-sama yang sepaham dengan Bapak sokarno untuk menjaga bangsa ini dari bangkitnya kembali razim Orde baru yang penuh dengan kesemuan, kebohongan dengan menggembalikan roda repormasi yang telah diperjuangkan mahasiswa n rakyat indonesia diseluruh negeri ini pada tahun 1998 yang menewaskan banyak mahasiswa secara misterius pada kejadian semanggi, ke rel atau jalan yang benar.

  14. nie Says:

    ada pepatah di kehudupan orang jawa yang bunyinya “Lemah teles,seng kuoso seng mbales” yang artinya yang diatas yang membalas,walaupun tidak dibalas dinunia aku yakin di akhirat pasti tersiksa

  15. klikharry Says:

    biarlah waktu yang berbicara mengenai kebenaran…

  16. decon Says:

    gak ngerti politik ..🙂

    btw salam kenal😛

  17. pratama Says:

    Sekitar setengah tahun lalu aku sempat baca tentang kewafatan Presiden Soekarno, kalau tidak salah di buku dosa besar soeharto (lupa pengarangnya) dan dijelaskan bahwa Soekarno tidak mendapat perlakuan yang selayaknya, padahal ia adalah salah satu orang yang berjasa memerdekakan Negeri Tercinta ini, ya sama seperti artikel-artikel di atas. Miris rasanya melihat beliau yang terasing oleh sebuah rezim yang berusaha menyingkirkannya dari hati rakyatnya. NAmun seperti gambaran dalam film Soe Hok Gie, Soekarno memiliki titk lemah (wajar bagi setiap manusia) ia memerintah dengan gaya “Raja-raja” jaman dulu. Meskipun demikian sudah selayaknya kita memperingati tanggal 21 Juni dengan mengibarkan bendera setengah tiang, jika memang tidak mungkin, mari kita kibarkan bendera setengah tiang di dalam hati kita. (hehehe serius amat yah :P)

  18. winsolu Says:

    memang sejarah nggak bisa dijaadikan rujukan buat suatu kebenaran….bener nggak?

  19. Yoyo Says:

    sejarah itu sama, yang membedakan hanya ruang dan waktu !

  20. ika Says:

    memang itu pak harto benar2 kejam,,, selama ini kita dibohongin pemerintahan orde baru…

  21. Unless Says:

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Unless!

  22. NdaruAlqaz Says:

    RAKYAT MISKIN DILARANG SAKIT…

  23. arief_mahudm@yahoo.com Says:

    kenapa negri kita masih sama saja dengan sejarah – sejah yang telah kita lewati, tidak seperti sejarah suekarna yang berbakti kepada negara, dan negri kita masih sama dengansejarah pak harto yang berkepentingan pribadi sajah untuk kekuasaan nya. saya dari peropinsi BANTEN saya meraskandari para politik di peropinsi saya hanyalah utntuk kepentingan sendri, seperti CPNS hanya utnuk kalangan parapejabat sajah tidak ada utntuk kalangan masayarakat. hidup ini saya yakin akan berakhir di kemuadian hari. biarlah yawaku di jemput pada waktu – waktu ini, biarakan kolongan pejabat yang menik mati keindahan negri ini dengan kehausan kekuasaan.

  24. torasham Says:

    ehm……..
    semua tulisan masih dlm pihak “soekarno”……..
    mungkin lebih baik mencari lebih banya literal yg lebih seimbang………

    tau tidak mengapa pak karno bilang “……Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang,” (ALi Mustofa, Denpasar)…?

  25. Hedwig™ Says:

    Jadi Presiden dilarang Miskin🙂

  26. Famous Last Word « Daily Journal & Portfolio Projects Says:

    […] sendiri, aku yang mati daripada rakyatku yang perang. Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang. Bung Karno, dibisikkan kepada Putu Sugianitri ajudannya sebelum […]

  27. Kata-kata Terakhir Orang-orang Terkenal « Renungan diri Says:

    […] Bung Karno, dibisikkan kepada Putu Sugianitri ajudannya sebelum ajal. […]

  28. Sukarno mania Says:

    Sukarno menginspirasi saya untuk terus berjuang, berjuang memberikan nilai yang terbaik bagi bangsanya.
    yuk jangan hanya ngomong dan komentar, gunakan kemampuanmu untuk bangsamu. tunjukan bahwa kita mampu bangkit dari keterpurukan , salam dari kami

    sukarno mania

  29. KATA-KATA TERAKHIR ORANG-ORANG TERKENAL « Agoesramdhanie’s Weblog Says:

    […] Bung Karno, dibisikkan kepada Putu Sugianitri ajudannya sebelum ajal. […]

  30. Kata-kata Terakhir Orang-orang Terkenal « My Own Lil’ World Says:

    […] Bung Karno, dibisikkan kepada Putu Sugianitri ajudannya sebelum ajal. […]

  31. » kata² terakhir orang terkenal ♀♂ .. acHen™ ® 2008 .. ♂♀ Says:

    […] sendiri, aku yang mati daripada rakyatku yang perang. Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang. Bung Karno, dibisikkan kepada Putu Sugianitri ajudannya sebelum […]

  32. androe Says:

    makanya….indonesia gak pernah maju,,,,,lha pemerintahnya kyak gitu…..
    gak pernah mikir rakyat…

  33. wrestling_machine Says:

    Suharto bukan pahlawan, kalau saja masih ada sisa keberaniannya sebagai pahlawan, tentu tidak takut maju di meja keadilan, ……

  34. arezekizainal Says:

    saat terakhit Tan Malaka dong…….

    http://duniamerdeka.wordpress.com/

  35. santoso hn Says:

    bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya, jazad sang proklamator sudah menyatu dengan tanah tumpah darah tercinta, biarlah zaman yang mengadili mereka yang menzolimi, merdeka !!!

  36. Dony Budi prasetya Says:

    Sukarno semoga bisa menjadi cerminan bagi bangsa ini

  37. arsjad Says:

    bagus bgt, sukarno gitoooo

  38. soekarno mania Says:

    sampai kapanpun nama ” BUNG KARNO ” tetap ada…………di jiwa rakyat INDONESIA….MERDEKA

  39. RAMBO Says:

    setuju banget.pendapat diatas.

  40. indra Says:

    soekarno adalah negarawan sejati, dengan gentelmen dia rela mengalah demi perdamaian rakyat indonesia yg sangat dicintainya….seandainya kita saat ini punya pemimpin kayak beliau , gak bakalan negara kita seperti ini.

  41. yohanes muryadi Says:

    saya sangat mengagumi Bung Karno. Dia sungguh mencintai rakyat. Membaca kisahnya saya sangat terharu dan semakin hormat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: